Pada kesempatan
kali ini saya akan mengupas sedikit tentang seorang pemuda yang tinggal di suatu
negeri yang masih merupakan bagian dari Timur Tengah, yang pada disebelah selatannya
berbatasan dengan Laut Arab ,
disebalah barat berbatasan dengan Teluk Aden dan Laut Merah dan
disebelah timur berbatasan dengan Oman
sedangkan di sebelah utara berbatasan dengan Arab Saudi
negeri tersebut bernama “YAMAN”.
Pemuda itu ialah Uwais Al-Qarni begitulah
biasanya mereka memanggilnya, Uwais adalah seorang yang terkenal fakir,
hidupnya sangat miskin dan juga merupakan seorang anak yatim. Bapaknya sudah
lama meninggal dunia. Ia hidup bersama ibunya yang telah tua lagi lumpuh.
Bahkan, mata ibunya telah buta. selain ibunya Uwais tidak lagi mempunyai sanak
family sama sekali.
Dalam kehidupannya
sehari-hari, Uwais Al-Qarni bekerja mencari nafkah dengan
menggembalakan domba-domba orang pada waktu siang hari. Upah yang diterimanya
alhamdulillah cukup buat nafkahnya dengan ibunya. Bila ada lebih uang,ia gunakan
untuk membantu tetangganya yang hidup miskin dan serba kekurangan seperti ia
dan ibunya. Demikianlah pekerjaan Uwais Al-Qarni setiap hari.
Uwais Al Qarni memiliki penyakit sopak,
tubuhnya belang-belang. Walaupun cacat, ia adalah pemuda yang soleh dan sangat
berbakti kepadanya Ibunya. Ibunya adalah seorang wanita tua yang lumpuh. Uwais
senantiasa merawat dan memenuhi semua permintaan Ibunya. Hanya satu permintaan
yang sulit ia kabulkan.
"Anakku,
mungkin Ibu tak lama lagi akan bersama dengan kamu, ikhtiarkan agar Ibu dapat
mengerjakan haji," pinta Ibunya. Uwais tercenung, perjalanan ke Mekkah
sangatlah jauh melewati padang pasir tandus yang panas. Orang-orang biasanya
menggunakan unta dan membawa banyak perbekalan. Namun Uwais sangat miskin dan
tak memiliki kendaraan.
Uwais
terus berpikir mencari jalan keluar. Kemudian, dibelilah seeokar anak lembu,
Kira-kira untuk apa anak lembu itu? Tidak mungkinkan Uwais pergi Haji naik
lembu, ternyata Uwais membuatkan kandang di puncak bukit. Setiap pagi ia bolak
balik menggendong anak lembu itu naik turun bukit. "Uwais gila.. Uwais
gila..." kata orang-orang. Yah, kelakuan Uwais memang sungguh aneh.
Tak
pernah ada hari yang ia lewatkan untuk tidak menggendong lembu naik turun
bukit. Makin hari anak lembu itu makin besar, dan makin besar tenaga yang
diperlukan Uwais. Tetapi karena latihan tiap hari, anak lembu yang membesar itu
tak terasa lagi. Setelah 8 bulan berlalu, sampailah musim Haji. Lembu
Uwais telah mencapai 100 kg, begitu juga dengan otot Uwais yang makin membesar.
Ia menjadi kuat mengangkat barang. Tahulah sekarang orang-orang apa maksud
Uwais menggendong lembu setiap hari. Ternyata ia latihan untuk menggendong
Ibunya. Uwais menggendong ibunya berjalan kaki dari Yaman ke Mekkah.
Subhanallah, alangkah besar cinta Uwais pada ibunya. Ia rela menempuh perjalanan
jauh dan sulit, demi memenuhi keinginan ibunya. Uwais berjalan tegap
menggendong ibunya tawaf di Ka'bah. Ibunya terharu dan bercucuran air mata saat
melihat Baitullah. Di hadapan Ka'bah, ibu dan anak itu berdoa.
"Ya
Allah, ampuni semua dosa ibu," kata Uwais.
"Bagaimana
dengan dosamu?" tanya ibunya heran. Uwais menjawab, "Dengan
terampunnya dosa Ibu, maka Ibu akan masuk surga. Cukuplah ridho dari Ibu yang
akan membawa aku ke surga."
Subhanallah, itulah keinganan Uwais yang tulus dan penuh cinta. Allah SWT pun memberikan karunianya, Uwais seketika itu juga disembuhkan dari penyakit sopaknya. Hanya tertinggal bulatan putih ditengkuknya. Seusai melakukan haji Uwais dan ibunyapun kembali ke Yaman.
Subhanallah, itulah keinganan Uwais yang tulus dan penuh cinta. Allah SWT pun memberikan karunianya, Uwais seketika itu juga disembuhkan dari penyakit sopaknya. Hanya tertinggal bulatan putih ditengkuknya. Seusai melakukan haji Uwais dan ibunyapun kembali ke Yaman.
Suatu ketika Uwais Al-Qarni sangat sedih setiap melihat
tetangganya yang baru datang dari Madinah karena mereka telah bertemu dengan
Nabi Muhammad, sedang dirinya belum pernah berjumpa dengan Rasulullah. Suatu ketika
uwais mendengar berita tentang Perang Uhud yang telah menyebabkan Nabi Muhammad
saw mendapat cidera dan giginya patah karena dilempari batu oleh musuh-musuhnya setelah mendengar berita tersebut kemudian Uwais pun
segera mengetok giginya dengan batu hingga patah. Hal tersebut dilakukannya
sebagai ungkapan rasa cintanya kepada Nabi Muhammmad saw, sekalipun ia belum
pernah bertemu dengan beliau. Hari demi hari berlalu, dan kerinduan Uwais untuk
menemui Nabi saw semakin dalam. Hatinya selalu bertanya-tanya, kapankah ia
dapat bertemu Nabi Muhammad saw dan memandang wajah beliau dari dekat? Ia rindu
mendengar suara Nabi Muhammad saw, kerinduan karena imannya.
Namun bagaimana mungkin ia
tega meninggalkan ibunya dalam keadaan yang demikian? Namun hatinya selalu
gelisah. Siang dan malam pikirannya diliputi perasaan rindu memandang wajah
nabi Muhammad saw.
Akhirnya, kerinduan kepada
Nabi saw yang selama ini dipendamnya tak dapat ditahannya lagi. Pada suatu hari
ia datang mendekati ibunya, mengeluarkan isi hatinya dan mohon ijin kepada
ibunya agar ia diperkenankan pergi menemui Rasulullah di Madinah. Ibu Uwais walaupun telah uzur, iapun merasa terharu ketika mendengar
permohonan anaknya itu. Ia memaklumi perasaan Uwais seraya berkata, “pergilah wahai Uwais, anakku! Temuilah Nabi
di rumahnya. Dan bila telah berjumpa dengan Nabi, segeralah engkau kembali
pulang.”
Betapa gembiranya hati Uwais Al-Qarni mendengar
ucapan ibunya itu. Segera ia berkemas untuk berangkat. Namun, ia tak lupa
menyiapkan keperluan ibunya yang akan ditinggalkannya, serta berpesan kepada
tetangganya agar dapat menemani ibunya selama ia pergi. Setelah berpamitan Uwais Al-Qarni pun pergi menuju Madinah.
Uwais Ai-Qarni Pergi ke Madinah
Setelah menempuh perjalanan
jauh, akhirnya Uwais Al-Qarni sampai juga dikota madinah. Segera ia
mencari rumah Nabi Muhammad saw. Setelah ia menemukan rumah Nabi, diketuknya
pintu rumah tersebut sambil mengucapkan salam, keluarlah seseorang seraya
membalas salamnya. Segera saja Uwais Al-Qarni menanyakan Nabi saw yang ingin
dijumpainya. Namun ternyata Nabi tidak berada dirumahnya, beliau sedang berada
di medan pertempuran. Uwais Al-Qarni hanya dapat bertemu dengan Siti Aisyah
ra, istri Nabi saw. Betapa kecewanya hati Uwais. Dari jauh ia datang untuk
berjumpa langsung dengan Nabi saw, tetapi Nabi saw tidak dapat dijumpainya.
Dalam hati Uwais Al-Qarni bergolak
perasaan ingin menunggu kedatangan Nabi saw dari medan perang. Tapi kapankah
Nabi pulang? Sedangkan masih terngiang di telinganya pesan ibunya yang sudah
tua dan sakit-sakitan itu, agar ia cepat pulang ke Yaman, “engkau harus lekas
pulang”.
Akhirnya, karena ketaatannya
kepada ibunya, pesan ibunya mengalahkan suara hati dan kemauannya untuk
menunggu dan berjumpa dengan Nabi saw. Karena hal itu tidak mungkin, Uwais Al-Qarni dengan
terpaksa pamit kepada Siti Aisyah ra untuk segera pulang kembali ke Yaman, dia
hanya menitipkan salamnya untuk Nabi Muhammad
saw. Setelah itu, Uwais Al-Qarni pun segera berangkat mengayunkan
langkahnya dengan perasaan amat haru.
Peperangan telah usai dan
Nabi saw pulang menuju Madinah. Sesampainya di rumah, Nabi saw menanyakan
kepada Siti Aisyah ra tentang orang yang mencarinya. Nabi mengatakan bahwa Uwais Al-Qarni anak
yang taat kepada ibunya, adalah penghuni langit. Mendengar perkataan Nabi saw,
Siti Aisyah ra dan para sahabat tertegun. Menurut keterangan Siti Aisyah ra,
memang benar ada yang mencari Nabi saw dan segera pulang kembali ke Yaman,
karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan
ibunya terlalu lama. Nabi Muhammad saw melanjutkan keterangannya tentang Uwais Al-Qarni, penghuni langit itu, kepada para
sahabatnya., “Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia, perhatikanlah ia
mempunyai tanda putih ditengah talapak tangannya.”
Sesudah itu Nabi saw
memandang kepada Ali ra dan Umar ra seraya berkata, “suatu ketika apabila
kalian bertemu dengan dia, mintalah doa dan istighfarnya, dia adalah penghuni
langit, bukan orang bumi.”
Waktu terus berganti, dan
Nabi saw kemudian wafat. Kekhalifahan
Abu Bakar pun telah digantikan
pula oleh Umar bin
Khatab. Suatu ketika,
khalifah Umar teringat akan sabda Nabi saw tentang Uwais Al-Qarni, penghuni
langit. Beliau segera mengingatkan kembali sabda Nabi saw itu kepada sahabat Ali bin Abi
Thalib ra. Sejak saat itu setiap ada kafilah yang datang dari Yaman,
Khalifah Umar ra dan Ali ra selalu menanyakan tentang Uwais Al Qarni, si fakir
yang tak punya apa-apa itu, yang kerjanya hanya menggembalakan domba dan unta
setiap hari? Mengapa khalifah Umar ra dan sahabat Nabi, Ali ra, selalu
menanyakan dia?
Rombongan kalifah dari Yaman
menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan mereka. Suatu ketika, Uwais Al-Qarni turut
bersama mereka. Rombongan kalifah itu pun tiba di kota Madinah. Melihat ada
rombongan kalifah yang baru datang dari Yaman, segera khalifah Umar ra dan Ali
ra mendatangi mereka dan menanyakan apakah Uwais Al-Qarni turut bersama mereka. Rombongan kafilah
itu mengatakan bahwa Uwais Al-Qarni ada bersama mereka, dia sedang menjaga
unta-unta mereka di perbatasan kota. Mendengar jawaban itu, khalifah Umar ra
dan Ali ra segera pergi menjumpai Uwais
Al-Qarni.
Sesampainya di kemah tempat
Uwais berada, khalifah Umar ra dan Ali ra memberi salam. Tapi rupanya Uwais
sedang shalat. Setelah mengakhiri shalatnya dengan salam, Uwais menjawab salam
khalifah Umar ra dan Ali ra sambil mendekati kedua sahabat Nabi saw ini dan
mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Sewaktu berjabatan, Khalifah Umar ra
dengan segera membalikkan tangan Uwais, untuk membuktikan kebenaran tanda putih
yang berada di telapak tangan Uwais, seperti yang pernah dikatakan oleh Nabi
saw. Memang benar! Tampaklah tanda putih di telapak tangan Uwais Al-Qarni.
Wajah Uwais Al-Qarni tampak
bercahaya. Benarlah seperti sabda Nabi saw bahwa dia itu adalah penghuni
langit. Khalifah Umar ra dan Ali ra menanyakan namanya, dan dijawab,
“Abdullah.” Mendengar jawaban Uwais, mereka tertawa dan mengatakan, “Kami juga
Abdullah, yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya?” Uwais
kemudian berkata, “Nama sayaUwais
Al-Qarni”.
Dalam pembicaraan mereka,
diketahuilah bahwa ibu Uwais Al-Qarni telah meninggal dunia. Itulah
sebabnya, ia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat itu.
Akhirnya, Khalifah Umar dan Ali ra memohon agar Uwais membacakan do'a dan
istighfar untuk mereka. Uwais enggan dan dia berkata kepada Khalifah, “saya lah
yang harus meminta do'a pada kalian.”
Mendengar perkataan Uwais,
khalifah berkata, “Kami datang kesini untuk mohon doa dan istighfar dari anda.”
Seperti yang dikatakan Rasulullah sebelum wafatnya. Karena desakan kedua
sahabat ini, Uwais Al-Qarni akhirnya mengangkat tangan, berdoa dan
membacakan istighfar. Setelah itu Khalifah Umar ra berjanji untuk menyumbangkan
uang negara dari Baitul Mal kepada Uwais untuk jaminan hidupnya. Segera saja
Uwais menampik dengan berkata, “Hamba mohon supaya hari ini saja hamba
diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini
tidak diketahui orang lagi.”
Fenomena Ketika Uwais Al-Qarni Wafat
Beberapa tahun kemudian, Uwais Al-Qarni berpulang
ke rahmatullah. takjubnya, pada saat ia akan dimandikan, tiba-tiba sudah banyak
orang yang berebutan untuk memandikannya. Dan ketika dibawa ke tempat
pembaringan untuk dikafani, di sana pun sudah ada orang-orang yang menunggu
untuk mengkafaninya. Demikian pula ketika orang pergi hendak menggali
kuburannya, disana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya hingga
selesai. Ketika usungan dibawa menuju ke pengkuburan, luar biasa banyaknya
orang yang berebutan untuk mengusungnya.
Meninggalnya Uwais Al-Qarni telah
menggemparkan masyarakat kota Yaman. Banyak terjadi hal-hal yang amat
mengherankan. Sedemikian banyaknya orang yang tak dkenal berdatangan untuk
mengurus jenazah dan pemakamannya, padahal Uwais Al-Qarni adalah seorang fakir yang tidak
dihiraukan orang. Sejak ia dimandikan sampai ketika jenazahnya hendak
diturunkan ke dalam kubur, disitu selalu ada orang-orang yang sudah siap melaksanakannya
terlebih dahulu.
Penduduk kota Yaman
tercengang. Mereka saling bertanya-tanya, “siapakah sebenarnya engkau wahai Uwais Al-Qarni? bukankah
Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir, yang tak memiliki apa-apa, yang
kerjanya sehari-hari hanyalah sebagai penggembala domba dan unta? Tapi, ketika
hari wafatmu, engkau menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya
manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenal. Mereka datang dalam jumlah
sedemikian banyaknya. Agaknya mereka adalah para malaikat yang diturunkan ke
bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan pemakamanmu.”
Berita meninggalnya Uwais Al-Qarni dan
keanehan-keanehan yang terjadi ketika wafatnya telah tersebar ke mana-mana.
Baru saat itulah penduduk Yaman mengetahuinya, siapa sebenarnya Uwais Al-Qarni. Selama
ini tidak ada orang yang mengetahui siapa sebenarnya Uwais Al-Qarni disebabkan
permintaan Uwais Al-Qarni sendiri kepada Khalifah Umar ra dan
Ali ra, agar merahasiakan tentang dia. Barulah di hari wafatnya mereka
mendengar sebagaimana yang telah disabdakan oleh Nabi saw, bahwa Uwais Al-Qarni adalah penghuni langit. Subhanallah
Wallahu’alam


Tidak ada komentar:
Posting Komentar